Review - Review Film dan Tulisan

1. Review Film: Frozen 2 (2019)

 

 

 

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Enam tahun setelah seri pertama, kisah petualangan kakak beradik Elsa dan Anna berlanjut lewat film Frozen 2.

Masih diarahkan sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck, kisah ini dibuat dengan latar musim gugur, tiga tahun setelah kejadian dalam seri yang pertama kali dirilis pada 2013 silam.

Perkembangan masing-masing karakter cukup kentara seiring pertumbuhan diri mereka. Dengan cerita yang lebih kompleks, Frozen 2 berhasil dikemas menjadi sebuah sekuel yang memenuhi ekspektasi dan menghibur.


Sepeninggal kepergian ayah dan ibunya, Elsa (disuarakan Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) kini hidup ditemani si boneka salju Olaf (Josh Gad) serta Kristoff (Jonathan Groff) dan si rusa kutub Sven di Istana Arendelle.

Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang.

Review Film: Frozen 2Kisah dibuka dengan ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya kala diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang. (Dok. Disney)

Hingga suatu kali, Elsa mendengar suara yang ia duga berkaitan dengan misteri keberadaan hutan ajaib. Dia terus dihantui sampai kemudian berusaha menelusuri sumber asal suara tersebut.

Namun, upaya Elsa justru menjadi petaka. Ia malah membangkitkan roh-roh dari hutan ajaib yang marah sampai kehidupan di Arendelle pun terancam kembali karenanya.

Merasa menjadi penyebab masalah, Elsa memutuskan mencari jalan menuju hutan ajaib demi menyelamatkan Arendelle seorang diri.

Namun, aksi itu dicegah oleh sang adik, Anna yang tak mau lagi kehilangan Elsa. Mereka pun akhirnya pergi bersama, ditemani Olaf, Kristoff, dan Sven.

Dalam perjalanan tersebut, Elsa tak hanya menelusuri akar permasalahan yang terjadi antara Arendelle dan hutan ajaib. Namun ia juga menemukan penyebab yang sesungguhnya atas kematian orangtua mereka sampai sumber kekuatan yang dimiliki.

Lika-liku perjalanan dalam Frozen 2 bukan hanya menguak misteri yang tak terjawab di seri pertamanya, tapi juga menjadi sebuah gambaran proses pendewasaan dan pencarian jati diri dari masing-masing karakter.

Review Film: Frozen 2Elsa dan Anna, bersama  Olaf, Kristoff, dan Sven berpetualang bersama mencari jawaban soal hutan ajaib. (Dok. Disney)

Olaf contohnya. Ia dengan polos merasa gelisah saat berpikir akan tumbuh dewasa. Ia menganggap menjadi dewasa membuat hal-hal magis tak lagi masuk akal.

Elsa menjadi pribadi yang lebih percaya diri atas segala tindakan yang dilakukan. Seiring berjalannya waktu, dia berusaha memahami situasi dan mengendalikan diri terlebih dahulu dalam menghadapi masalah.

Namun yang paling utama, Elsa pada akhirnya bisa menerima perbedaan dalam diri dengan kekuatan yang dimiliki.

Sementara Anna, ia terlihat cukup berlebihan di awal karena ketakutan akan sikap sang kakak yang merasa bisa mengatasi sendiri segala sesuatu.

Namun, kali ini dia juga digambarkan mampu mempertimbangkan dampak saat menentukan sikap dan keputusan.

Pribadi karakter-karakter utama itu pun terbentuk atas peristiwa-peristiwa yang telah mereka lalui. Penonton, khususnya penonton Frozen pertama, seolah juga ikut diajak tumbuh berkembang bersama karakter dalam film tersebut.

Bila diperhatikan seksama, pola alur cerita yang ditawarkan Frozen 2 tak jauh berbeda daripendahulunya. Hal itu cukup terlihat pada penempatan adegan musikal hingga proses Elsa berganti gaun.

Namun yang perlu digarisbawahi, film ini disuguhkan dalam kemasan yang lebih segar.

Tingkah dan humor Olaf sukses menjadi daya tarik utama, bahkan bisa dikatakan lebih menghibur dari yang pertama.

Soal animasi dan sinematografi sudah tak diragukan. Gambar-gambar cantik memanjakan mata sepanjang film. Gaun Elsa di sekuel ini pun menjadi sorotan tersendiri.

Belum lagi, lagu-lagu tema yang tak kalah membekas dan memiliki 'kekuatan' seperti seri pertamanya. Ragam genre musik pun menjadi warna baru yang ditawarkan sekuel ini.

Secara umum, Frozen 2 menjadi sebuah sekuel yang membuat hati riang dan mampu membuat penonton menikmati setiap hal magis yang tersuguh.

Frozen 2 menjadi hiburan yang sayang untuk dilewatkan bersama keluarga. Meski cerita terasa lebih ke proses pendewasaan diri, tapi tampaknya sekuel ini masih bisa diterima dan dinikmati oleh penonton anak-anak.

2. Review Film: Joker (2019)

Review Film: Joker  
Review film Joker. (Dok. Warner Bros Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Artikel review film Joker ini mengandung spoiler atau beberan.

Pilu. Tragis. Kegilaan yang mendalam. Tiga hal tersebut ada di hampir seluruh bagian dari film Joker (2019). Untuk sebuah film yang mengangkat karakter dari komik, cerita film yang dibintangi Joaquin Phoenix ini amatlah gelap.

Joker mengisahkan beragam kekerasan baik fisik maupun mental yang terpaksa diterima dan dilalui oleh Arthur Fleck (Phoenix), seorang komedian gagal. Ia hidup di era ketika Gotham dalam titik kronis, penuh ketimpangan, kejahatan, dan kemarahan pada 1980-an.


Inilah fondasi pengembangan karakter bernama Joker yang dikenal sebagai 'Pangeran Kriminal' dan disebut 'supervillain'.


Butuh kesiapan mental untuk bisa menerima dan memahami segala hal yang dilalui oleh Fleck. Dalam konteks ini, sutradara Todd Phillips sungguh tak membuat Joker sebagai hiburan yang mudah ditelan begitu saja.

Konflik-konflik sosial seperti masalah kesehatan mental, benturan antar-kelas, hingga politik manipulatif ditampilkan secara nyata dan gamblang. Termasuk perjalanan kejiwaan Fleck, dari semula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tidak merasakan apa-apa ketika mengambil nyawa seseorang.

Kali ini, penonton benar-benar diharapkan mematuhi aturan terkait klasifikasi usia dari lembaga sensor. Joker sungguh dibuat untuk penonton usia 17 tahun ke atas.

Peringatan ini bukan hanya terkait aksi kekerasan fisik di dalam film, tapi juga kedewasaan dalam menerima pesan di dalam film.

Selain itu, penonton yang memiliki masalah kesehatan mental atau depresi akan jauh lebih bijak menghindari film ini. Atau mintalah pendampingan dari orang terdekat bila kukuh ingin menyaksikannya.
Review Film: JokerJoker mengisahkan beragam kekerasan baik fisik maupun mental yang terpaksa diterima dan dilalui oleh Arthur Fleck (Phoenix), seorang komedian gagal. (Dok. Warner Bros Pictures via youtube (Warner Bros. Pictures))
 
Peringatan ini bukan sekadar menakut-nakuti atau pun berlebihan. Netizen pun mengeluhkan hal serupa. Todd Phillips bukan hanya menggambarkan segala kepiluan Fleck, namun membawa penonton ikut merasakannya.

Secara ajaib, Todd Phillips yang merangkap sebagai produser dan ikut membantu menulis naskah bersama Scott Silver, mampu membawa penonton ikut merasakan bagaimana menjadi orang yang dirundung, dimarjinalkan, mendapatkan kasih sayang yang palsu, dan tak diinginkan. Secara bertubi-tubi.

Bukan hanya itu, beragam kekerasan juga ditampilkan secara gamblang, atau setidaknya mampu membuat penonton terdiam seribu bahasa.

Di sisi lain, Joker juga menggambarkan betapa buruk dampak yang muncul terhadap seseorang yang merasakan kekurangan cinta, apresiasi, penerimaan, dan kasih sayang dari sekelilingnya. Ditambah lagi kegagalan pemerintah dalam membantu mereka yang termasuk dalam kaum marjinal - termasuk di dalamnya orang-orang yang membutuhkan bantuan psikolog profesional.

Masalah yang sebenarnya bisa terjadi dengan siapa pun di dunia ini, bukan hanya Joker.
Review Film: JokerSegala kondisi malang nan mengenaskan itu dialami oleh Fleck yang sebenarnya juga tumbuh dengan trauma dari masa kecil mengakar dalam kejiwaannya. (Dok. Warner Bros Pictures via youtube (Warner Bros. Pictures))
 
Nahasnya, segala kondisi malang nan mengenaskan itu dialami oleh Fleck yang sebenarnya juga tumbuh dengan trauma dari masa kecil mengakar dalam kejiwaannya.

Narasi yang begitu gelap dari Todd Phillips ini juga sekaligus menjadi tamparan bagi siapa pun untuk berlaku baik kepada siapa pun, karena tak ada yang tahu ada apa di balik senyuman atau tawa seseorang.

Atas narasi dan pesan di balik cerita gelap ini, Phillips memang patut mendapatkan apresiasi luar biasa. Ia mampu menyuguhkan sebuah paket lengkap dari karya sinematik. Namun, patut diingat, film ini sendiri menjadi bahan perdebatan, terutama karena membuat penonton berempati dengan sosok penjahat berdarah dingin .

Lepas dari segala perdebatan dan pesan di dalamnya, Joker bukan hanya memiliki cerita yang kuat dan mampu membuat penonton berdecak kagum juga tercengang, tapi sinematografinya yang memukau, dengan iringan musik yang membius.

Sedangkan untuk Joaquin Phoenix, sebuah Piala Oscar amatlah layak untuk dirinya. Ia pun selama ini hanya pernah menerima nominasi sebanyak tiga kali, sekali untuk Best Supporting Actor, dan dua kali sebagai Best Actor.

Meskipun begitu, dengan penampilan Phoenix sebagai Joker, ia sejatinya telah memenangkan hati para penonton. Sorot mata, raut wajah, gerak tubuh, bahkan tawanya mampu menyampaikan kesakitan yang dialami serta tragis hidup seorang Arthur.

Bila membandingkan Phoenix dengan Heath Ledger sebagai salah satu aktor terbaik yang memerankan Joker, keduanya merupakan versi berbeda dan sulit untuk dibandingkan.

Joaquin Phoenix hebat memainkan Arthur Fleck sebelum menjadi Joker. Sedangkan Heath Ledger adalah versi terbaik setelah menjadi Joker.
3. Resensi Buku "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya" (2019)

Resensi Buku "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya" (2019)
Cover Buku "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya" 
 
RESENSI BUKU
Judul Buku: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Pengarang: Dea Anugrah
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: 2019
Tebal buku: vi + 181 halaman

Dulu, waktu masih SD saya gemar sekali membaca karya fiksi, dari novel hingga komik. Saya bahkan sempat kepikiran, mungkin ketika besar nanti saya akan punya dua lemari besar yang isinya komik semua. Eh, nyatanya saya salah besar! Waktu berkunjung saya ke perpustakaan umum jauh lebih lama dibandingkan ke toko buku besar. Juga, semakin bertambahnya usia, membuat saya semakin pelit untuk menghabiskan uang untuk membeli komik atau novel yang bisa saya selesaikan satu hingga tiga jam. Jadilah, impian saya tentang rak-rak dengan deretan komik berjejer pupus seketika. Selain itu, mungkin karena tuntutan kuliah dan pekerjaan, saya tak kembali banyak bersentuhan dengan karya-karya fiksi. Meskipun tidak sepenuhnya meninggalkan dunia imajiner, tapi jumlah karya fiksi yang saya konsumsi jelas kalah jauh dengan karya esai akademik atau esai popular lainnya.

Membandingkan fiksi dan non-fiksi memang bukan perbandingan setara, bukan apple to apple, istilah kerennya. Tapi kini, dengan berkembangnya sudut pandang para penulis handal, kita dapat mudah menemukan karya non-fiksi yang serenyah novel. Salah satunya adalah buku karya Dea Anugrah yang berjudul "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya".
Buku setebal 181 halaman ini adalah salah satu buku non-fiksi yang bercerita. Cara penulis menggambarkan gagasannya membuat pembaca menjadi penasaran bagaimana dan apa makna sesungguhnya dibalik cerita yang ia suguhkan. Terdiri dari 20 esai pendek yang mengangkat tema kehidupan beragam, dari obrolan sederhana dari Pulau Biawak hingga derita anak-anak dalam konflik Timur Tengah.

Gagasan-gagasan yang disampaikan penulis asal Bangka Belitung ini tidak hanya membuat kita menambah pengetahuan baru, tetapi juga menghibur karena gaya berkisahnya yang jauh lebih luwes, bukan hanya sekedar melempar opini kaya data. Bahkan setelah saya membaca esai pertama, saya masih mengecek kembali jenis buku ini ke cover belakang, saking tidak percayanya bahwa buku yang Dea tulis adalah nonfiksi karena caranya bercerita yang mengalir ala novel dan cerpen.
Disamping memuat kisah-kisah berbalut argumen personalnya, salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah foto-foto yang disajikan bersebelahan dengan judul. Bukan hanya menarik dari segi visual, tapi juga mampu menggugah keingintahuan pembaca tentang apa yang Dea tulis pada halaman selanjutnya. Walaupun gambar-gambarnya sederhana, seperti atap angkot yang penuh dengan beberapa tandan pisang atau pemandangan di dalam lapak tukang cukur, namun Dea mampu menyulap pemandangan sehari-hari itu menjadi tidak biasa, dan memperluas sudut pandang kita bahwa banyak hal yang perlu diceritakan dari kisah-kisah sepele yang acapkali kita acuhkan. Lebih lanjut, dalam bukunya, Dea juga tidak stagnan bertahan di satu lokasi. Buku ini mampu membawa kita terbang dari Stasiun Jatibarang, Indramayu hingga Terminal Central de Autobuses del Norte, mencoba membumikan kisah para petualang dengan muka kepuh sampai cerita Salvador dengan botol belingnya.

Sebagai bunga rampai nonfiksi pertamanya, menurut saya Dea cukup sukses untuk menyajikan apa yang jarang dibagikan oleh penulis-penulis esai lainnya: gaya bercerita yang tidak kaku dan pesan humanis yang ia sampaikan dibalik semua esainya. Terutama kisah di laman terakhir yang hendak menyadarkan bahwa tiap manusia memiliki berbagai cobaan dan tantangan dalam hidupnya, yang seringkali membuatnya merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Padahal, jika kita mau sedikit merenung, menengok ke kanan, ke kiri dan bahkan ke belakang. Masih banyak hal yang perlu disyukuri, dan hal itu yang perlu kita pegang kuat-kuat untuk menjalani kehidupan selanjutnya.

4. E-certificate: Campus Tour Gunadarma (Jakarta/2019)











 (Mohon maaf jika nama peserta dan ttd pengurus tidak ada, dikarenakan pembuat sertifikat males/gk niat bikinnya)
Seingat saya, seminar yang saya ikutin dengan tema Creative Industry 4.0, membuat saya bisa berfikir untuk kedepan, bagaimana saya bisa menghadapi Creative Industry 4.0. Didalam tema tersebut, jelas pastinya bagaimana cara menghadapi, menangunglangi dll dalam menghadapi Creative Industry 4.0 kedepannya. Jadi sebagai mahasiswa, bisa berfikir untuk kedepan dan bisa untuk survive kedepannya nanti.

5.  Review Film: 'Zombieland: Double Tap'
Review Film: 'Zombieland: Double Tap'
Jakarta, CNN Indonesia -- Penantian selama 10 tahun untuk sekuel Zombieland sedikit terbayar melalui Zombieland: Double Tap. 'Keluarga' nyentrik yang beranggotakan Columbus, Tallahessee, Wichita dan Little Rock ini kembali dengan memberikan sensasi baru kepada penonton, termasuk saya.

Zombieland: Double Tap menceritakan kisah keluarga unik tersebut yang akhirnya tiba di Gedung Putih usai bertahun-tahun hidup di jalan melawan zombie. 'Kestabilan' hidup di Gedung Putih membuat Columbus dan Tallahesse ingin menetap di sana serta menikmati hal-hal kecil bersama Wichita serta Little Rock.

Namun ternyata Wichita dan Little Rock punya keinginan lain serta konflik batin tersendiri. Mereka memutuskan keluar dari Gedung Putih dan kembali ke jalanan.



Permasalahan dimulai ketika Little Rock lebih memilih untuk bersama seorang pria asing yang bertahan hidup hanya dengan gitar dan ganja di tengah serangan para zombie.

Dari keempat pemeran utama Zombieland memang hanya Little Rock (Abigail Breslin) yang terlihat berubah. Columbus (Woody Harrelson), Tallahassee (Jesse Eisenberg) dan Wichita (Emma Stone) terlihat sama seperti pada film pertama, baik dalam penampilan dan karakter.

Namun, perubahan itu sejalan dengan alur cerita serta karakter Little Rock dalam Zombieland: Double Tap. Ia mulai menunjukkan karakter anak remaja normal seperti melawan, ingin menemukan jati diri, dan berkumpul dengan anak-anak seumuran. Hal itu yang membuat Little Rock memilih untuk kabur dari 'rumah'.

Zombieland: Double Tap menawarkan keseruan berbeda dibandingkan seri pertama. Zombieland 10 tahun lalu menampilkan ketegangan dan perjuangan tiap pribadi melawan zombie yang akhirnya membuat Columbus, Tallahassee bisa bersama dengan Wichita dan Little Rock.

Sementara itu, sekuel film tersebut lebih banyak menampilkan permasalahan pribadi para tokoh atau bisa dibilang lebih banyak drama dibandingkan aksi.

Review Film: 'Zombieland: Double Tap'Film 'Zombieland: Double Tap' memiliki konflik layaknya sebuah keluarga. (Foto: dok Sony Pictures)

Kendati demikian, bukan berarti Zombieland 2 tak seseru pendahulunya. Karakter baru seperti Nevada (Rosario Dawson), Madison (Zoey Deutch), Berkeley (Avan Jogia), Albuqueque (Luke Wilson) dan Flagstaff (Thomas Middleditch) menambah bumbu yang membuat film ini layak ditonton.

Karakter Madison dalam Zombieland 2 ini bahkan bisa dibilang lebih menarik perhatian dibandingkan Wichita yang sebelumnya menjadi 'primadona' dalam Zombieland pertama.

Selain itu, penonton juga dihibur dengan humor-humor gelap (dark humour) di sepanjang film. Naskah Zombieland: Double Tap ditulis Paul Wenick dan Rhett Reese, penulis film Deadpool.

Meski seru, saya tetap menyayangkan zombie yang tak banyak mendapat porsi dalam Zombieland: Double Tap. Padahal, film ini memberikan adegan pembuka spektakuler yang tak boleh dilewatkan.

Dalam narasi yang disampaikan karakter Tallahassee, ia menjelaskan bahwa zombie saat ini sudah berubah dan beragam. Penjelasan tersebut secara tak langsung membuat saya mengantisipasi adegan menegangkan melawan zombie.

Namun sayang, antisipasi itu harus saya telan sendiri karena memang Zombieland: Double Tap lebih fokus pada permasalahan pribadi para tokoh.





















































































































































Oleh sebab itu, penonton sebaiknya menonton Zombieland pertama terlebih dahulu sebelum menyaksikan Zombieland: Double Tap sehingga keseruan aksi dan drama bisa saling melengkapi. Penonton juga dianjurkan masuk bioskop tepat waktu agar tak melewatkan adegan pembukaan Zombieland: Double Tap yang luar biasa namun mungkin sulit diterima oleh perut dan kepala sekelompok orang.

Di akhir film, jangan keburu beranjak. Zombieland: Double Tap memiliki beberapa post-credit scene yang sayang untuk dilewatkan.

Zombieland: Double Tap yang tayang sejak 23 Oktober ini masih bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop Indonesia. (chri/rea)

Comments

Popular posts from this blog

Tugas Kedua Softskills - Inovasi SI & New Technology

Penerapan COBIT dalam Tata Kelola Sistem Informasi Business Intelligence pada Perusahaan Minuman Ringan